Home Inspirasi 5 Hal yang Bisa Kita Pelajari Dari Cara Bisnis Mark Zuckerberg

5 Hal yang Bisa Kita Pelajari Dari Cara Bisnis Mark Zuckerberg

22
0
5 Hal yang Bisa Kita Pelajari Dari Cara Bisnis Mark Zuckerberg

Facebook telah tumbuh dari jejaring sosial kampus menjadi salah satu perusahaan yeng memiliki nilai saham paling tinggi di dunia. Pertumbuhan yang besar tersebut tak lepas dari peran sang founder yang tekun mempertahankan idealismenya agar Facebook tetap menjadi jejaring sosial terbesar di dunia.

Banyak hal yang tidak kita ketahui tentang apa yang terjadi di belakang sana, seperti keputusan kontroversial Mark yang tetap menahbiskan dirinya menjadi CEO, alih-alih memilih orang lain untuk menggantikan perannya.

Lalu, pelajaran apa yang bisa kita dapatkan dari cara bisnis Mark Zuckerberg? Kami telah merangkum beberapa penuturan dari kolega, teman dan beberapa co-founder Facebook, yang pernah bekerja bersama dengan Mark.

Memisahkan Bisnis dan Persahabatan

Kristen Koh Goldstein pernah berbicara serius dan membahas berbagai aspek bisnis, hingga ia pun menarik kesimpulan bahwa Mark selalu membedakan kepentingan bisnis dan persahabatan. Hal ini dibuktikan saat ia ‘mengandangkan’ salah satu co-founders karena dianggap tidak memiliki peran dalam mengembangkan perusahaan. Bagi Kristen, ini sangat mengejutkan karena ia tidak bisa membayangkan bagaimana ia harus mengganti salah satu posisi penting di perusahaannya dan memecat sahabatnya sendiri.

Mark selalu memprioritaskan Facebook di atas segalanya.  Dan ini merupakan satu-satunya cara menjaga perusahaan tetap berkembanga maju. Hal ini bisa Anda tiru ketika menjalankan bisnis. Meskipun teman Anda juga merupakan pelanggan, namun hutang mereka ke perusahaan harus Anda tagih. Prinsip ini sangat penting ketika Anda menjalin kerja sama bisnis dengan sahabat. Profesionalitas harus tetap diutamakan.

Break the Limit

mark zuckerberg

Lima tahun setelah berdirinya Facebook, tidak ada perubahan berarti yang dilakukan oleh Mark dan jajaran eksekutifnya. Hingga pada akhirnya, di awal tahun 2010-an, Facebook mulai merambah ranah mobile akibat meningkatnya pengguna smartphone sejak tahun itu. Awalnya, tampilan penuh Facebook hanya bisa dibuka ketika pengguna mengaksesnya melalui PC. Saat itu, Mark memutuskan untuk membuat Facebook lebih responsif sehingga penggunanya lebih leluasa ketika membukanya melalui ponsel.

Pada Awalnya, hal ini membuat nilai saham Facebook turun dan dianggap sebagai titik bangkrut Mark. Namun ternyata, keberanian Mark dalam mengambil keputusan dengan segala resikonya berbuah manis karena pengguna Facebook meningkat secara instan.

Fokus Pada Kualitas, Bukan Kuantitas

Mark tahu bahwa pengalaman pelanggan/pengguna jauh lebih penting dari apapun. Inilah yang mendorong Mark tetap mempertahankan nilai-nilai yang menjadikan user setia terhadap Facebook. Menurut Green Span, Mark pernah diajak untuk bekerja sama dengan HouseSYSTEM – yang merupakan platform sosial media lain, untuk memperbanyak pengguna.

Namun Mark menolaknya karena ia tahu bahwa Facebook belum sempurna dan belum siap menambah jumlah user (yang artinya juga menolak peningkatan profit). 

Mark tidak peduli pada berapa jumlah orang yang menggunakan Facebook saat itu dan berapa peningkatan pengguna jika ia menyetujui kerja sama tersebut. Ia hanya ingin membuat produk yang memberikan manfaat dan kemudahan karena orang akan selalu mencari barang yang memberi mereka pengalaman yang bermanfaat

Think Big, Start Small

Mark Zukerberg benar-benar mengaplikasikan filosofi ini. Ia memulai dengan sebuah langkah kecil, membuat sosial media yang hanya mencakup lingkungan kampusnya. Dan mulai melakukan ekspansi besar-besaran setelah mendapatkan suntikan modal. Banyak entrepreneur yang tidak mengaplikasikan filosofi ini. Mereka hanya ingin memiliki pencapaian besar, namun tidak ada hal yang mereka lakukan untuk meraihnya.

Mark berpendapat bahwa jika Anda melakukan pekerjaan yang mudah secara bertahap terlebih dahulu, maka Anda akan mencapai hasil yang lebih banyak.

Selalu Gunakan Produk Anda Sendiri

Ini merupakan skala mudah untuk menilai kelayakan produk. Karena jika Anda saja tidak suka dengan produk yang Anda buat, bagaimana orang lain akan menyukainya? Mark selalu menggunakan semua produk dan fitur Facebook dalam kehidupan sehari-harinya. Menurutnya, tidak ada cara lain untuk menilai kualitas produk Anda selain dengan menjadi pengguna produk itu sendiri. Di sisi lain, ini merupakan cara Mark untuk tetap mengukur pasar dan lebih dekat dengan pengguna produknya.

Itulah beberapa pelajaran penting mengenai entrepreneurship yang bisa kita tiru dari Mark Zuckerberg (founder facebook). Disamping keberhasilannya menjadi sosok yang bisa sejajar dengan Bill Gates, selera busana Mark juga selalu menjadi sorotan dengan setelan kaos dan jeans bergaya casual. Ada yang tahu mengapa Mark lebih sering terlihat apa adanya? Let’s share it in comment box!

I think it’s simple rule of business, if you do the things that are easier first, you can actually make a lot of progress.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here