Home Parenting Dicap Sebagai ‘Ibu yang Jahat’ Oleh Anak, Mengapa Tidak?

Dicap Sebagai ‘Ibu yang Jahat’ Oleh Anak, Mengapa Tidak?

18
0
dicap sebagai ibu yang galak

Bukan suatu hal yang asing jika ada saat dimana Anda sebagai seorang Ibu, pernah dicap sebagai Ibu paling jahat sedunia oleh anak sendiri. Mungkin Anda memang seorang ibu yang jahat, setidaknya di mata anak Anda sendiri. Namun ada kalanya dimana seorang Ibu harus bersikap tegas terhadap anak-anaknya. Sikap tegas ini bukan ditunjukkan dengan pukulan atau ‘permainan tangan’ lain, tetapi lebih kepada memberi larangan atau bahkan hukuman.

Mengapa kita harus bersikap demikian? Ternyata, menjadi ‘ibu yang jahat’ dapat memberi manfaat yang besar pada anak. Akan lebih baik dicap sebagai ibu yang jahat oleh anak Anda sendiri, namun dapat membawa mereka pada hal-hal baik daripada dicap sebagai ibu yang gagal oleh orang lain. Inilah alasan mengapa seorang Ibu terkadang harus rela dicap sebagai seseorang yang jahat oleh anaknya sendiri.

Anak Akan Mengerti Arti Tanggung jawab

Sudah sewajarnya seorang Ibu marah jika sang buah hati tidak memiliki tanggung jawab. Terkadang, dibutuhkan sikap tegas saat melatih tanggung jawab anak. Setiap aksi akan dibarengi dengan sebuah hasil yang dipertanggung jawabkan, dimana Anda harus menerapkannya sejak kecil. Jika anak tidak mengerjakan tugas sekolahnya misal, Anda berhak memberinya hukuman, karena itu kewajibannya.

Mungkin terdengar jahat, namun anak akan mengerti bahwa jika mereka tidak melakukan kewajibannya, akan ada sesuatu yang mereka terima sebagai bentuk tanggung jawab. Jelaskan pula bahwa inilah cara dunia bekerja, dimana jika mereka melakukan kesalahan, maka mereka harus memperbaikinya.

Anak Tahu Cara Untuk Mendapatkan Sesuatu

Pernah melihat seorang anak SD yang menggenggam smartphone terbaru? Ya, mungkin orang tua mereka memiliki metode mendidik anak yang berbeda. Ibu yang baik bukan Ibu yang selalu menuruti permintaan anaknya. Ibu yang baik adalah mereka yang mengajari anak untuk mendapatkan sesuatu yang mereka inginkan.

Jika anak Anda ingin memiliki sepeda terbaru, ajarkan bagaimana cara mendapatkannya – mendapatkan nilai yang baik, membantu orang tua menyapu rumah setiap pagi, atau dengan hal-hal sepele seperti rutin mengaji setiap minggu.

Pola how-to-earn-your-rewards ini harus diterapkan sejak kecil. Hal ini baik bagi pola pikir anak karena kelak, pada masanya nanti, mereka harus menghadapi dunia dan memperoleh keinginannya dengan kemampuan mereka sendiri.

Anak Akan Mengkonsumsi Makanan Sehat

Ya, tidak usah sungkan untuk dicap sebagai Ibu yang jahat karena Anda melarang anak membeli jajanan pinggir jalan. Orang tua harus mengawasi apa yang dikonsumsi oleh anak karena sistem kekebalan tubuh yang belum sempurna. Apalagi, ada banyak penjual yang tidak bertanggungjawab karena menggunakan bahan berbahaya pada makanan yang dijual. Oleh karena itu, pola penerapan makanan sehat harus digencarkan sejak anak masih kecil.

Ajarkan anak untuk memilih makanan yang sehat dan bergizi tinggi. Anda bisa tidak memberikan uang jajan pada anak. Sebagai gantinya, Ibu juga harus kreatif dalam menyediakan makanan dan camilan untuk anak dengan bekal sekolah dengan berbagai macam menu yang lezat. Ibu boleh jahat, asal anak memiliki tubuh yang sehat.

Anak Mengerti Peran Sebagai Anggota Keluarga

Beberapa orang tua memiliki pembantu yang mengurus semua urusan rumah. Namun jika Anda tidak memiliki pembantu rumah tangga, anak perlu dilatih bertanggung jawab sebagai bentuk bagian dari anggota keluarga.

Menyuruh anak untuk melakukan beberapa tugas rumah tangga bukan sesuatu yang salah. Justru ini membuat anak memiliki peran bahwa sebagai anggota keluarga, mereka harus membantu satu sama lain. Jika Ayah dan Ibu sibuk bekerja dan tidak bisa mengerjakan pekerjaan rumah, anak harus bisa mengganti peran mereka dengan melakukan pekerjaan rumah yang ringan.

Mungkin terlihat kejam, membiarkan anak membersihkan lantai setiap akhir pekan, tapi inilah cara terbaik mengajarkan anak untuk saling membantu sesame anggota keluarga. Membiarkan anak mengerjakan pekerjaan rumah sah-sah saja selama orang tua menyediakan perlindungan dan kasih sayang yang cukup pada anaknya.

Anak Terhindar Dari Bahaya dan Tindak Kejahatan

Melarang anak untuk bermain dengan teman sebaya di saat-saat tertentu sering membuat anak marah dan membenci Ibunya. Namun saat melihat kenyataan yang ada, dimana kasus perkosaan dan kejahatan terhadap anak yang meningkat, melarang anak untuk bermain atau berkumpul dengan orang-orang tertentu akan menjauhkan mereka dari marabahaya.

Orang tua harus bersikap otoriter jika menyangkut soal keselamatan anak tanpa perlu kompromi. Ada banyak hal mengerikan yang mungkin terjadi dan bisa menimpa anak Anda kapan saja. Melarang anak untuk pergi atau memberi jam khusus bermain merupakan cara yang paling mudah diterapkan, namun belum cukup efektif jika orang tua masih kecolongan. Diperlukan ketegasan dan pendekatan khusus dengan memberi alasan mengapa Anda melarang anak untuk melakukan hal-hal yang bisa mengancam keselamatannya.

Setiap orang tua memang memiliki metode yang berbeda dalam mendidik anak. Anda bisa mengubah, menambah atau memodifikasi alasan-alasan tersebut agar sesuai dengan cara Anda dalam mendidik anak. Bersikap kejam terhadap anak memang bukan sebuah keharusan, tapi selama hal tersebut dapat memberikan efek positif bagi masa depannya, Anda tidak perlu merasa bersalah jika dicap sebagai Ibu yang jahat, bahkan oleh anak Anda sendiri!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here